Showing posts with label A.K.N.. Show all posts
Showing posts with label A.K.N.. Show all posts

12/27/2014

Aporia

Jika caramu memandang cinta berdasar pada apa yang diciptakan orang lain, itu bukan cinta.
Menjadi ideal karena semata-mata pemikiran orang lain, itu bukan cinta.

Cinta melihat dengan mata hati sendiri – bukan dengan orang lain.
Pandanglah ia seperti apa yang kau rasakan – bukan apa yang mereka katakan.
Rawatlah ia seperti apa yang kau inginkan – bukan apa yang mereka contohkan.

Cinta seperti apa kita merasa dan memandangnya.
Ikuti kata-kata mereka, maka takkan kau temukan kebahagiaanmu.
Lakukan yang mereka contohkan, maka kau akan membelenggu cintamu.

Seperti keledai, mereka menuntunmu ke satu arah.
Mereka yang berbicara tentang idealisme cinta.
Mereka yang menggurui tentang bagaimana cinta seharusnya diperlakukan.
Mereka yang menghakimi cinta yang tak mereka miliki.

Mereka.
Para penjual opini cinta.
Para penyair sajak-sajak cinta bertutur ratna mutu manikam yang menjual mati-matian karyanya.
Para tolol berlagak dewa yang menggariskan apa yang seharusnya dilakukan cinta.

Ikuti mereka.
Maka hanya akan ada kepalsuan yang diatas-namakan cinta dalam hatimu.

Bahagia dalam dunia dengan aturan-aturan cinta yang mereka buat?
Bukan begitu caraku memperlakukan cinta.
Aku menghidupkan cintaku di dalam dunia dengan aturan-aturanku – bukan aturan mereka.

Aku tak berharap kau juga begitu.
Aku tak berharap kau-yang-mengagungkan-teori-teori-cinta-mereka juga begitu.

Untuk apa mencintai cinta yang jiwanya terbelenggu oleh gemerlapnya idealisme cinta orang lain?
Menghamba dengan pongkah terhadap nilai-nilai yang mereka sebarluaskan.

Aku tak berharap kau menjadi sepertiku.
Aku tak berharap kau-yang-memuja-nilai-nilai-cinta-mereka menjadi sepertiku.

Karena di saat kau tanggalkan prinsip kebebasanmu dalam mencintai cinta,
Di saat itulah kututup duniaku untukmu.



-  A.K.N.  -

12/10/2014

Rasa

Rembulan bersinar mewah – gemerlap indah
Lukiskan bayang dalam euforia terindah
Polos tercetak di atas s’gala kebanggaan
Melebur dalam imaji kesempurnaan

11/02/2014

Harapan di Sudut Kota


Sayu matanya menatap malam
Gelora semangatnya telah lama padam
Kini duduk terdiam memanggul derita
Menengadah bisu di sudut kota
Bersimbah pilu di usia senja
Jauh harapan bersahaja – akal t’lah dijerang amarah
Habis tak tersisa dari tangan-tangan kekarnya yang kini menyerah
Lelah pada keadaan
Lelah pada harapan